Daftar Blog

Rabu, 27 Januari 2016

Closer



         Closer


              Sore itu, aku duduk diatas bangku taman di pinggiran kota Bandung, menikmati hembusan angin sore yang sedikit membuatku menggigil. Aku sendirian duduk di bangku itu, menyesap segelas mocca hangat sambil menggenggam pensil. Kulihat hanya satu atau dua orang yang masih berada ditaman itu, ya hari sebenarnya sudah mulai gelap orang-orang pun punya kesibukan masing-masing di rumah mereka, kau tau euuu mungkin berkumpul dengan keluarga mereka, menikmati makan malam yang dihidangkan oleh ibunya sambil mengobrol dan sedikit bercanda. Bukan, bukan berarti aku tak memiliki keluarga, hanya saja aku sedang ingin sendirian. Aku sering berada disini, setiap sabtu sore sekitar jam 3 aku sudah duduk di bangku ini dengan mocca hangat yang kubeli di café sebelah, dan beberapa buku untuk kubaca, kadang aku membawa laptopku atau alat lukis yang mungkin juga buku gambar A3 milikku.

            Kali ini aku sedang membawa buku gambarku, tentu saja dengan alat tulis lain, seperti penghapus, serutan,dan beberapa buah pensil yang berbeda ketebalannya. Aku sedang mencoba menggambar pohon di depanku, pohon dengan batang yang besar, berwarna coklat tua, cabangnya banyak sekali, padahal tak sedikit daun yang berguguran ditanah tapi masih saja pohonnya terlihat begitu lebat. Ah aku melupakan satu hal, pohon itu memiliki nama Calparisha. Aku jadi teringat tentang pohonn Kalpavriksha di India, namanya hampir mirip bukan? Kadang orang-orang india sana menyebut itu pohon harapan, masyarakat percaya pohon itu adalah pohon yang menghubungkan mereka dengan tuhan, kau tau seperti perantara doa yang mereka ajukan untuk tuhan. Sudahlah, mana mungkin ada pohon seperti itu di bandung, ini kan Indonesia bukan India.

            Jam menunjukan pukul 17.45, sepertinya sudah waktunya untuk berhenti menggambar, cahaya dari lampu taman tak cukup untuk menerangi semua komponen dari pohon itu. Jadi, kuputuskan untuk meneruskannya minggu depan. Dengan sigap aku membereskan pensilku yang berserakan dibawah tanah, menggugulung buku gambar tadi lalu aku masukan kedalam tempat berbentuk tabung disampingku. Akupun menikmati minuman hangatku yang tinggal setengah. Kulihat ada seseorang mendekat kearah pohon itu, pemuda itu berjalan perlahan dengan tangan kanannya yang menjulur kedepan, sepertinya ia hendak menyentuh pohon itu, benar saja, ia membelai pohon calparisha itu, perlahan dan berulang-ulang. Tubuh yang berdiri tegap dihadapan pohon, kepalan tangan yang ia julurkan menyentuh pohon itu, dan kepala yang tertunduk seperti menunjukan rasa keputus asaan, kehilangan, dan penyesalan.

            “ada apa dengannya?” ujarku

            Karena penasaran, akhirnya aku berdiri lalu mengambil tasku dan hendak berjalan ke arah pemuda tadi, perlahan aku mendekat ke arahnya, semakin dekat, dekat

            Tririring.. (Suara handphone)

            “ya? Ada apa?.. Di taman dekat rumah… Baiklah, aku akan segera pulang… aaa jangan kau makan kueku, hei itu kue ulang tahun temanku… ya baiklah aku akan membeli cupcake untukmu..sampai jumpa dirumah” ujarku berbicara dengan adik lelakiku disebrang sana

            Lalu kumasukan kembali hpku dalam saku, dan kulihat pemuda tadi sudah menghilang entah kemana

            “Kemana dia?”tanyaku dengan wajah bingung

             ah sudahlah, lebih baik aku segera pulang sekarang”


********


“kemana kita akan pergi ka?” ujar bocah kecil bernama Riski itu pada sang kakak

“entahlah, apa yang kau inginkan untuk makan malam?” Tanya gadis bernama may, ia menggenggam tangan adik satusatunya yang masih berumur 5 tahun itu sambil berjalan perlahan menyeimbangkan kaki kecil sang adik

“umm.. aku belum lapar” jawab Riski sambil memegang perut kecilnya itu

“baiklah, bagaimana kalau kita ke toko mainan?” Tanya sang kakak dengan wajah gembira

“apa boleh? Benarkah?” Tanya adiknya meyakinkan dengan mata berbinar penuh harapan

“tentu, jangan bilang pada ayah dan ibu, ok? Hihi” jawab kakaknya mantap, lalu menarik tangan adiknya menuju toko mainan disebrang jalan

“iya ka hehe, gendoong” rajuk adiknya

“manja sekali kau, tokonya hanya disebrang sana”

“kakak gendooongg” mintanya sekali lagi

“ya ya ya, jangan menangis!” jawabnya sambil jongkok membelakangi adiknya

“naiklah!” titah sang kakak

“hehe… aku sayang kakak” ujar adiknya ketika berada di balik punggung kakaknya

Dan sang kakak pun hanya tersenyum senang



********


Rambut hitam legam, postur tubuh yang sesuai dengan seleraku, kulitnya yang mungkin agak sering terbakar sinar matahari, dan mata indah yang memperlihatkan ekspresi sendu, ah begitu teduh. Lihatlah gaya berpakaiannya kali ini, sweater agak besar warna biru langit dengan sedikit motif tribal disana, topi rajut besar yang ia kenakan tak menutupi poninya membuat topi bagian belakangnya terjatuh begitu saja menutupi sebagian rambut panjangnya, celana berwana coklat tua seperti warna pohon calparisha disana, juga sepatu berwana krem yang menutupi mata kakinya, begitu menarik, cantik, membuatku tak ingin melepaskan pandangan darinya. Ehem.. aku bukan stalker, jangan salah menuduh ok.

           Setiap hari sabtu, tepat jam 3 sore, ia akan berada disana, sambil membawa sebuah minuman ditangan kanannya juga tas ransel berwarna krem yang ia gendong. Kulihat ia membawa gulungan besar itu lagi di balik punggungnya, ah kupikir ia akan menggambar.  Jangan heran kenapa aku bisa mengetahuinya, aku sering kemari, bukan sebagai pengunjung melainkan sebagai pemeriksa. Aku adalah anak dari pemilik taman ini, yah sebenarnya taman ini dulu adalah sebuah usaha transaksi jual beli tanaman yang aku kelola bersama ayahku.Dulu sebelum wafat ayahku menyampaikan pesan padaku untuk menjadikan tempat itu taman, aku yang masih muda dengan umur yang baru menginjak 19 tahun ini diperintah untuk mengelola taman dan jadilah aku seperti sekarang, tapi ini hanya pekerjaan sampinganku. Kehidupan kota yang begitu kejam dan boros memaksaku untuk mencari pekerjaan lain, pekerjaan utamaku adalah pegawai bank negara di pusat kota.

Well, aku sering memperhatikannya dari kejauhan sudah sejak 2 minggu lalu, dan ini ke 3 kalinya aku bertemu dengan gadis itu. apakah bertemu? Sepertinya hanya aku saja, dia tak pernah menyadari dengan kehadiranku disini. Gadis itu selalu terfokus pada apa yang ia kerjakan, entah itu menggambar, melukis, membaca, dan hal hal lainnya. Tapi justru itu yang membuatku begitu tertarik, ia asyik dengan dunia yang ia miliki, selalu terlihat tenang dengan segala peralatannya, begitu cantik, betapa inginnya kuabadikan wajah elok itu kedalam lukisanku.

“boleh aku ikut duduk disini?” tanyaku pada gadis cantik tanpa nama itu. sepertinya aku membuatnya sedikit terkejut, bisa dilihat dari respon dia yang berlebihan, haha lucu sekali

“ahhh gambarkuu, dimana penghapus tadi?” ujarnya mencari benda itu tanpa memperdulikan pertanyaanku

“ehem..boleh aku duduk disini, aku ingin melukis, sepertinya ini sudut yang pas untuk melukis pohon disebrang sana itu?” tanyaku sekali lagi dengan sedikit penjelasan sambil menunjuk kearah pohon tepat disebrang sana

“ah tentu saja, silahkan silahkan” jawabnya sambil membereskan peralatan yang berserakan, lalu menggeser tempat duduknya

Setelah duduk aku mengeluarkan peralatanku dari dalam tas, lalu kumulai saja melukis pohon besar yang sudah cukup tua itu. Lama sekali kami hening dan diam tanpa ada satupun yang memulai pembicaraan, entah karena kami terlalu menikmati dunia imajinasi kami, atau karena memang kami yang saling merasa asing

“warna pohonnya sangat bervariasi” akhirnya aku memutuskan untuk memulai pembicaraan

“ha? Ah tentu kau benar” responnya agak sedikit kaku, sepertinya aku yang harus mencairkan suasana kali ini

“apa nama pohon ini?” tanyaku yang berpura-pura

“calparisha, bukankah itu tertera disana” jawab gadis itu seadanya, wow.. ketus sekali

“euumm sepertinya aku sering mendengar nama itu, nama pohon di negara yang punya penduduk terbanyak di dunia. Aduh sepertinya aku lupa” ujarku

“Kau tau juga tentang itu? kupikir hanya aku yang berpikiran seperti itu, Pohon di negara India itu adalah pohon Kalpavriksha kan?” jawabnya mulai tertarik dia hehe

“ah benar itu dia kalpavriksha. Kudengar masyarakat menyebutnya juga dengan pohon harapan. Ada juga yang bilang padaku bahwa pohon itu sering diberi persembahan, mereka menyebutnya perantara doa yang disampaikan untuk tuhan” jelasku

            “hei bagaimana kau tau? Apa kau tertarik dengan pohon?” tanyanya

           “ya, kau bisa bilang aku sedikit ahli hehe” ujarku percaya diri

         “wowww.. oh iya namaku may” ujarnya mengehentikan kegiatan menggambar lalu menjulurkan tangan kanannya padaku
       
     “aku Ronald, senang berjumpa denganmu” jawabku membalas jabat tangannya
     
       Yes kupikir aku sudah berhasil menariknya dalam interaksi, lihat saja ia begitu senang bercerita panjang lebar tentang segala hal, kami mulai saling bertukar pikiran, memperkenalkan diri kami masing-masing, tanpa meninggalkan pekerjaan kami obrolan berlangsung begitu lama, sampai akhirnya salah satu dari kami telah selesai mengerjakan pekerjaannya, dan ia pun pamit pergi duluan, tentu saja sebelum dia pulang aku meminta pin bb nya dulu, untung saja dia dengan welcome menerimaku untuk menjadi teman mengobrolnya.
       
     Selama berminggu-minggu kami larut dalam obrolan iseng kami, saling bercanda dan berbagi cerita entah itu masalah pribadi atau cerita tentang realita kehidupan, ah kami terkadang jalan jalan atau hanya sekedar makan bersama ketika ada waktu luang. Hidup yang begitu indah, parasmu, tingkah lakumu, juga segala tentangmu membuatku begitu terbuai. Feromone macam apa yang ada pada tubuhmu? Begitu kuat menarikku, prisma indah dalam matamu membuatku terhipnotis, gelak tawamu yang sedikit berat itu menghidupkan sesuatu dalam tubuhku, aku merasakannya lagi, perasaan ingin memilikimu untukku sendiri.



********


            Teng teng teng teng

            Jam menunjukan 20.00 tepat, angin malam semakin terasa menusuk kulit,seorang gadis berjalan sambil merapatkan jaketknya, gadis itu memakai sarung tangan pemberian Ronald kemarin. Ia tak menyangka diluar rumah akan sedingin ini, harusnya ia menurut kata adiknya saja untuk diam dirumah, tapi ternyata keinginan untuk pergi ke taman itu lebih besar. Entah apa yang membuanya begitu tertarik untuk berkunjung kesana, padahal ini hari rabu.

            Sebelum menuju taman itu, ia berjalan menuju café, kali ini bukan mocca yang gadis itu beli, susu dengan campuran tiramisu dan satu slice rainbow cake. Setelah menerima pesanannya ia pun dengan tergesa berjalan menuju taman

            “wah ternyata ada orang di taman ini” ujarnya kaget ketika melihat seorang pemuda sedang berdiri disamping pohon di depannya, terlihat pemuda itu menunduk seperti menangis, karena penasaran gadis itu berjalan perlahan menuju tempat pemuda itu berdiri

            “apa kau baik-baik saja?” Tanya may. Pemuda tadi kaget dan bergerak menjauh, lalu menghapus air matanya. Ia melirik pada gadis yang menepuk pundaknya tadi, lalu dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan pemuda tadi memperkenalkan diri, yang tentu disambut baik oleh may
     
       “mengapa kau menangis?” Tanya may tanpa basa basi
        
    Pemuda tadi hanya tersenyum, lalu berjalan menuju tasnya, mengambil sesuatu dari dalam tas kemudian kembali pada may
           
 “ini untukmu” ujar pemuda yang bernama Alfan itu dengan bingung may menerima satu buket mawar yang berwarna biru langit itu
           
 “apa maksudmu? Mengapa kau memberikannya padaku?”
           
 “ada seseorang yang ingin kuberikan mawar, tapi gadis itu tak pernah muncul. Kurasa ada gadis cantik ini lebih pantas menerimanya” jawab alfan sambil menatap gadis disampingnya lalu ia pun tersenyum. Tak ada respon dari may, mereka larut dalam heningnya malam itu ditemani bulan yang bersinar sendu, dan beberapa serangga yang melakukan aktifitasnya. Tiba tiba alfan mengambil gitar, lantunan lagu yang berjudul “Fall For You” milik Secondhand Serenade keluar dari suara dan petikan gitar alfan. May saat itu hanya bisa tersenyum menikmati, tangan may bergerak sendiri menggapai suatu benda di balik punggung pemuda yang sedang memejamkan mata sambil bernyanyi itu

            “Sayap yang indah, warnanya bersih sekali, putih seputih gumpalan awan di langit biru pada siang hari. Lembut bagai kulit bayi yang menangis gembira karena telah lahir” ujar may yang terus menatap intens penuh kekaguman. Alfan pun menghentikan lagunya, ia menatap heran gadis disampingnya, lalu tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah may. Mereka saling menatap, masuk kedalam bola mata orang dihadapannya, dan may tertidur di pangkuan alfan.



......................................................................................................