Closer
Sore itu,
aku duduk diatas bangku taman di pinggiran kota Bandung, menikmati hembusan angin
sore yang sedikit membuatku menggigil. Aku sendirian duduk di bangku itu,
menyesap segelas mocca hangat sambil menggenggam pensil. Kulihat hanya satu
atau dua orang yang masih berada ditaman itu, ya hari sebenarnya sudah mulai gelap
orang-orang pun punya kesibukan masing-masing di rumah mereka, kau tau euuu
mungkin berkumpul dengan keluarga mereka, menikmati makan malam yang
dihidangkan oleh ibunya sambil mengobrol dan sedikit bercanda. Bukan, bukan
berarti aku tak memiliki keluarga, hanya saja aku sedang ingin sendirian. Aku
sering berada disini, setiap sabtu sore sekitar jam 3 aku sudah duduk di bangku
ini dengan mocca hangat yang kubeli di café sebelah, dan beberapa buku untuk
kubaca, kadang aku membawa laptopku atau alat lukis yang mungkin juga buku
gambar A3 milikku.
Kali ini aku
sedang membawa buku gambarku, tentu saja dengan alat tulis lain, seperti
penghapus, serutan,dan beberapa buah pensil yang berbeda ketebalannya. Aku
sedang mencoba menggambar pohon di depanku, pohon dengan batang yang besar,
berwarna coklat tua, cabangnya banyak sekali, padahal tak sedikit daun yang
berguguran ditanah tapi masih saja pohonnya terlihat begitu lebat. Ah aku
melupakan satu hal, pohon itu memiliki nama Calparisha. Aku jadi teringat
tentang pohonn Kalpavriksha di India, namanya hampir mirip bukan? Kadang
orang-orang india sana menyebut itu pohon harapan, masyarakat percaya pohon itu
adalah pohon yang menghubungkan mereka dengan tuhan, kau tau seperti perantara
doa yang mereka ajukan untuk tuhan. Sudahlah, mana mungkin ada pohon seperti
itu di bandung, ini kan Indonesia bukan India.
Jam menunjukan
pukul 17.45, sepertinya sudah waktunya untuk berhenti menggambar, cahaya dari lampu
taman tak cukup untuk menerangi semua komponen dari pohon itu. Jadi, kuputuskan
untuk meneruskannya minggu depan. Dengan sigap aku membereskan pensilku yang
berserakan dibawah tanah, menggugulung buku gambar tadi lalu aku masukan
kedalam tempat berbentuk tabung disampingku. Akupun menikmati minuman hangatku
yang tinggal setengah. Kulihat ada seseorang mendekat kearah pohon itu, pemuda
itu berjalan perlahan dengan tangan kanannya yang menjulur kedepan, sepertinya
ia hendak menyentuh pohon itu, benar saja, ia membelai pohon calparisha itu,
perlahan dan berulang-ulang. Tubuh yang berdiri tegap dihadapan pohon, kepalan
tangan yang ia julurkan menyentuh pohon itu, dan kepala yang tertunduk seperti
menunjukan rasa keputus asaan, kehilangan, dan penyesalan.
“ada apa
dengannya?” ujarku
Karena
penasaran, akhirnya aku berdiri lalu mengambil tasku dan hendak berjalan ke
arah pemuda tadi, perlahan aku mendekat ke arahnya, semakin dekat, dekat
Tririring..
(Suara handphone)
“ya? Ada
apa?.. Di taman dekat rumah… Baiklah, aku akan segera pulang… aaa jangan kau
makan kueku, hei itu kue ulang tahun temanku… ya baiklah aku akan membeli
cupcake untukmu..sampai jumpa dirumah” ujarku berbicara dengan adik lelakiku
disebrang sana
Lalu
kumasukan kembali hpku dalam saku, dan kulihat pemuda tadi sudah menghilang
entah kemana
“Kemana
dia?”tanyaku dengan wajah bingung
“ah
sudahlah, lebih baik aku segera pulang sekarang”
********
“kemana kita akan pergi ka?” ujar
bocah kecil bernama Riski itu pada sang kakak
“entahlah, apa yang kau inginkan
untuk makan malam?” Tanya gadis bernama may, ia menggenggam tangan adik
satusatunya yang masih berumur 5 tahun itu sambil berjalan perlahan
menyeimbangkan kaki kecil sang adik
“umm.. aku belum lapar” jawab Riski
sambil memegang perut kecilnya itu
“baiklah, bagaimana kalau kita ke
toko mainan?” Tanya sang kakak dengan wajah gembira
“apa boleh? Benarkah?” Tanya adiknya
meyakinkan dengan mata berbinar penuh harapan
“tentu, jangan bilang pada ayah dan
ibu, ok? Hihi” jawab kakaknya mantap, lalu menarik tangan adiknya menuju toko
mainan disebrang jalan
“iya ka hehe, gendoong” rajuk adiknya
“manja sekali kau, tokonya hanya
disebrang sana”
“kakak gendooongg” mintanya sekali
lagi
“ya ya ya, jangan menangis!” jawabnya
sambil jongkok membelakangi adiknya
“naiklah!” titah sang kakak
“hehe… aku sayang kakak” ujar adiknya
ketika berada di balik punggung kakaknya
Dan sang kakak pun hanya tersenyum
senang
********
Rambut hitam legam, postur tubuh yang
sesuai dengan seleraku, kulitnya yang mungkin agak sering terbakar sinar
matahari, dan mata indah yang memperlihatkan ekspresi sendu, ah begitu teduh. Lihatlah
gaya berpakaiannya kali ini, sweater agak besar warna biru langit dengan sedikit
motif tribal disana, topi rajut besar yang ia kenakan tak menutupi poninya
membuat topi bagian belakangnya terjatuh begitu saja menutupi sebagian rambut
panjangnya, celana berwana coklat tua seperti warna pohon calparisha disana,
juga sepatu berwana krem yang menutupi mata kakinya, begitu menarik, cantik,
membuatku tak ingin melepaskan pandangan darinya. Ehem.. aku bukan stalker,
jangan salah menuduh ok.
Setiap hari
sabtu, tepat jam 3 sore, ia akan berada disana, sambil membawa sebuah minuman
ditangan kanannya juga tas ransel berwarna krem yang ia gendong. Kulihat ia membawa
gulungan besar itu lagi di balik punggungnya, ah kupikir ia akan menggambar. Jangan heran kenapa aku bisa mengetahuinya,
aku sering kemari, bukan sebagai pengunjung melainkan sebagai pemeriksa. Aku
adalah anak dari pemilik taman ini, yah sebenarnya taman ini dulu adalah sebuah
usaha transaksi jual beli tanaman yang aku kelola bersama ayahku.Dulu sebelum
wafat ayahku menyampaikan pesan padaku untuk menjadikan tempat itu taman, aku
yang masih muda dengan umur yang baru menginjak 19 tahun ini diperintah untuk
mengelola taman dan jadilah aku seperti sekarang, tapi ini hanya pekerjaan
sampinganku. Kehidupan kota yang begitu kejam dan boros memaksaku untuk mencari
pekerjaan lain, pekerjaan utamaku adalah pegawai bank negara di pusat kota.
Well, aku sering memperhatikannya
dari kejauhan sudah sejak 2 minggu lalu, dan ini ke 3 kalinya aku bertemu
dengan gadis itu. apakah bertemu? Sepertinya hanya aku saja, dia tak pernah
menyadari dengan kehadiranku disini. Gadis itu selalu terfokus pada apa yang ia
kerjakan, entah itu menggambar, melukis, membaca, dan hal hal lainnya. Tapi
justru itu yang membuatku begitu tertarik, ia asyik dengan dunia yang ia
miliki, selalu terlihat tenang dengan segala peralatannya, begitu cantik,
betapa inginnya kuabadikan wajah elok itu kedalam lukisanku.
“boleh aku ikut duduk disini?”
tanyaku pada gadis cantik tanpa nama itu. sepertinya aku membuatnya sedikit
terkejut, bisa dilihat dari respon dia yang berlebihan, haha lucu sekali
“ahhh gambarkuu, dimana penghapus
tadi?” ujarnya mencari benda itu tanpa memperdulikan pertanyaanku
“ehem..boleh aku duduk disini, aku
ingin melukis, sepertinya ini sudut yang pas untuk melukis pohon disebrang sana
itu?” tanyaku sekali lagi dengan sedikit penjelasan sambil menunjuk kearah
pohon tepat disebrang sana
“ah tentu saja, silahkan silahkan”
jawabnya sambil membereskan peralatan yang berserakan, lalu menggeser tempat
duduknya
Setelah duduk aku mengeluarkan
peralatanku dari dalam tas, lalu kumulai saja melukis pohon besar yang sudah
cukup tua itu. Lama sekali kami hening dan diam tanpa ada satupun yang memulai
pembicaraan, entah karena kami terlalu menikmati dunia imajinasi kami, atau
karena memang kami yang saling merasa asing
“warna pohonnya sangat bervariasi”
akhirnya aku memutuskan untuk memulai pembicaraan
“ha? Ah tentu kau benar” responnya
agak sedikit kaku, sepertinya aku yang harus mencairkan suasana kali ini
“apa nama pohon ini?” tanyaku yang
berpura-pura
“calparisha, bukankah itu tertera
disana” jawab gadis itu seadanya, wow.. ketus sekali
“euumm sepertinya aku sering
mendengar nama itu, nama pohon di negara yang punya penduduk terbanyak di
dunia. Aduh sepertinya aku lupa” ujarku
“Kau tau juga tentang itu? kupikir
hanya aku yang berpikiran seperti itu, Pohon di negara India itu adalah pohon
Kalpavriksha kan?” jawabnya mulai tertarik dia hehe
“ah benar itu dia kalpavriksha.
Kudengar masyarakat menyebutnya juga dengan pohon harapan. Ada juga yang bilang
padaku bahwa pohon itu sering diberi persembahan, mereka menyebutnya perantara
doa yang disampaikan untuk tuhan” jelasku
“hei
bagaimana kau tau? Apa kau tertarik dengan pohon?” tanyanya
“ya, kau
bisa bilang aku sedikit ahli hehe” ujarku percaya diri
“wowww.. oh
iya namaku may” ujarnya mengehentikan kegiatan menggambar lalu menjulurkan
tangan kanannya padaku
“aku Ronald,
senang berjumpa denganmu” jawabku membalas jabat tangannya
Yes kupikir
aku sudah berhasil menariknya dalam interaksi, lihat saja ia begitu senang
bercerita panjang lebar tentang segala hal, kami mulai saling bertukar pikiran,
memperkenalkan diri kami masing-masing, tanpa meninggalkan pekerjaan kami
obrolan berlangsung begitu lama, sampai akhirnya salah satu dari kami telah
selesai mengerjakan pekerjaannya, dan ia pun pamit pergi duluan, tentu saja
sebelum dia pulang aku meminta pin bb nya dulu, untung saja dia dengan welcome
menerimaku untuk menjadi teman mengobrolnya.
Selama
berminggu-minggu kami larut dalam obrolan iseng kami, saling bercanda dan
berbagi cerita entah itu masalah pribadi atau cerita tentang realita kehidupan,
ah kami terkadang jalan jalan atau hanya sekedar makan bersama ketika ada waktu
luang. Hidup yang begitu indah, parasmu, tingkah lakumu, juga segala tentangmu
membuatku begitu terbuai. Feromone macam apa yang ada pada tubuhmu? Begitu kuat
menarikku, prisma indah dalam matamu membuatku terhipnotis, gelak tawamu yang
sedikit berat itu menghidupkan sesuatu dalam tubuhku, aku merasakannya lagi,
perasaan ingin memilikimu untukku sendiri.
********
Teng teng
teng teng
Jam
menunjukan 20.00 tepat, angin malam semakin terasa menusuk kulit,seorang gadis
berjalan sambil merapatkan jaketknya, gadis itu memakai sarung tangan pemberian
Ronald kemarin. Ia tak menyangka diluar rumah akan sedingin ini, harusnya ia
menurut kata adiknya saja untuk diam dirumah, tapi ternyata keinginan untuk
pergi ke taman itu lebih besar. Entah apa yang membuanya begitu tertarik untuk berkunjung
kesana, padahal ini hari rabu.
Sebelum menuju
taman itu, ia berjalan menuju café, kali ini bukan mocca yang gadis itu beli, susu
dengan campuran tiramisu dan satu slice rainbow cake. Setelah menerima
pesanannya ia pun dengan tergesa berjalan menuju taman
“wah
ternyata ada orang di taman ini” ujarnya kaget ketika melihat seorang pemuda
sedang berdiri disamping pohon di depannya, terlihat pemuda itu menunduk
seperti menangis, karena penasaran gadis itu berjalan perlahan menuju tempat
pemuda itu berdiri
“apa kau
baik-baik saja?” Tanya may. Pemuda tadi kaget dan bergerak menjauh, lalu
menghapus air matanya. Ia melirik pada gadis yang menepuk pundaknya tadi, lalu dengan
ekspresi yang tak bisa dijelaskan pemuda tadi memperkenalkan diri, yang tentu
disambut baik oleh may
“mengapa kau
menangis?” Tanya may tanpa basa basi
Pemuda tadi
hanya tersenyum, lalu berjalan menuju tasnya, mengambil sesuatu dari dalam tas
kemudian kembali pada may
“ini
untukmu” ujar pemuda yang bernama Alfan itu dengan bingung may menerima satu
buket mawar yang berwarna biru langit itu
“apa
maksudmu? Mengapa kau memberikannya padaku?”
“ada
seseorang yang ingin kuberikan mawar, tapi gadis itu tak pernah muncul. Kurasa
ada gadis cantik ini lebih pantas menerimanya” jawab alfan sambil menatap gadis
disampingnya lalu ia pun tersenyum. Tak ada respon dari may, mereka larut dalam
heningnya malam itu ditemani bulan yang bersinar sendu, dan beberapa serangga
yang melakukan aktifitasnya. Tiba tiba alfan mengambil gitar, lantunan lagu
yang berjudul “Fall For You” milik Secondhand Serenade keluar dari suara dan
petikan gitar alfan. May saat itu hanya bisa tersenyum menikmati, tangan may
bergerak sendiri menggapai suatu benda di balik punggung pemuda yang sedang
memejamkan mata sambil bernyanyi itu
“Sayap yang
indah, warnanya bersih sekali, putih seputih gumpalan awan di langit biru pada
siang hari. Lembut bagai kulit bayi yang menangis gembira karena telah lahir”
ujar may yang terus menatap intens penuh kekaguman. Alfan pun menghentikan lagunya,
ia menatap heran gadis disampingnya, lalu tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke
wajah may. Mereka saling menatap, masuk kedalam bola mata orang dihadapannya,
dan may tertidur di pangkuan alfan.
......................................................................................................