Lagu Terkutuk
“Selamat pagi” 2 pasang kalimat yang selalu hadir menyambut pagiku kala
itu. Lebih dari cukup untuk membuat lengkungan di bibirku sepanjang hari.
Dimanapun dan kapanpun, setiap aku melamun 2 kalimat itu akan muncul kembali,
dan pada saat yang sama aku akan tersenyum lagi dan mulai membayangkan kamu ada
tepat di depan mataku, menatap ku dalam dalam dengan sorot matamu yang teduh,
lalu tanganmu mulai mengarah pada pucuk kepalaku bergerak turun sesuai dengan
gelombang rambut, perlahan,dan terus berulang ulang bergerak dengan penuh
kehati-hatian. Kemudian aku akan memejamkan mata lagi, hanya untuk sekedar
menikmati kelembutan disetiap inci belaian tanganmu kemudian kamu akan
tersenyum, dengan senyuman yang selalu menjadi candu untukku.
“Heh, ngapain sih
senyum-senyum. Ada dosen tuh, jangan megangin hp mulu. Belajar!”ujarnya
membuyarkan lamunanku
“hehe iya iya maafin
deeeh”
Bahkan aku akan selalu menunggu ucapan selamat malam
darimu, yah sekedar untuk mengantar tidurku agar aku bermimpi indah. Tapi,memang
kadang yang tadinya berniat tidur cepat, batal garagara aku dan kamu terlanjur
nyaman berbincang dengan media elektronik. Aku selalu menunggu saat saat
terpapar sebuah lantunan lagu dari suaramu, entah itu lagu kesukaanku atau bukan,
dengan suara khasmu dan gitar yang dimainkan menambah sendu setiap malam yang
datang, lagu itu mengukir sesuatu di dalam sini, semakin banyak maka semakin
indah ukiran itu,semakin bermakna, dan semakin sulit untuk di lupakan. Setiap
saat aku mendengar lagu itu, maka seperti mesin otomatis otakku akan
mengarahkan pada layar proyektor pemutaran film dokumenter, tentang sebuah
peristiwa aku dan kamu.
Kala itu hujan mengguyur kota kecil bernama Purwokerto,kota dengan susunan
rumah yang ramah lingkungan, tidak macet,tidak ada angkot yang mengantri di
pinggiran jalan untuk memenuhi jalanan, tidak ada supir kenek yang terus
memaksa orang orang yang lewat, disana hanya ada rumah rumah sederhana,makanan
makanan murah, pohon rindang , udara yang panas, dan terutama disana ada kamu.
Kamu tepat berada disampingku memegang gitar warna merah maroon favoritmu
menatapku seraya berkata
“li, nyanyi ya, aku main
gitar. Kamu nyanyi”
“aku ga bisa
nyanyi”ujarku menolak
“bisa bisa, kita mainin
lagu yang kamu bisa”
“lagu apa?”
Kami hening berpikir
berusaha mengotak ngatik sebuah lagu di otak kami, hening sekali beberapa
menit. Wajar sih saat itu tidak ada orang selain kita berdua disana
....
I was born to tell you i love you
and I am torn to do what i have to
to make you mine stay with me tonight
....
Petikan senar, nada yang berdentang, bait
bait lirik lagu yang romantis, matamu yang terpejam, juga Suara serakmu yang
memecah keheningan malam itu. Terlalu jelas, semua gambaran itu terlalu detail,
retina mataku seakan memutar gambar dari kejadian satu tahun silam. Dan
perasaan yang tergambar masih sama indahnya, hanya sekarang terasa menyakitkan,
seperti tangan yang terjebak pada lingkaran sulur duri, merasa memliki
keinginan keluar, tapi semakin berusaha
keluar semakin sakit, jika hanya berdiam diri, merasa tertekan. Mencari jalan
keluar mati-matian, berpikir keras, bertanya sana sini, mengikuti seluruh saran
yang diberikan.
Hasilnya?
Nihil
Masih saja sama, tangan itu tidak bisa keluar. Lain hal jika sulur itu
dipotong, memang ia akan terbagi dua. Dari kedua bagian tadi, mereka akan
tumbuh baru,semakin banyak, semakin panjang, semakin tidak terkendali, bahkan
seluruh tubuhmu bisa terlilit, dan kuyakin itu lebih menyakitkan. Itulah yang
aku rasakan ketika berusaha memaksa melupakan semua peristiwa lampau tentang
kita.
Lagu itu lagu terkutuk
bagaimana tidak,jika setiap kali mendengarnya ada yang seperti ingin membuncah
keluar dari sudut mata ataupun mulut yg ingin mencecar diri sendiri. Sebenernya
bukan salah lagunya, penulis lagu itu, apalagi komposernya.
Ini salahku, yang selalu
mengingat tentang hal sekecil apapun tentang kita..
Lagu terkutuk untuk sesuatu yang dikutuk. Lagunya itu ya mantra. Aku dan
kamu itu kutukan, aku dikutuk oleh sulur yang mengikatku semakin erat, dan
kamu? Kamu ya kutukan itu. Maka, bagaimana caraku bebas dari kutukan itu?
Aku berpikir mungkin
lebih baik,aku tidak pernah mendapatkan lagu darimu.
Alasannya?
Ya karena, aku terlalu
senang ketika mendapatkannya juga terlalu sedih ketika mendengarnya kembali