Daftar Blog

Rabu, 29 Juni 2016

Serumit Ketidakpedulianmu



 Serumit Ketidakpedulianmu



Mencintaimu adalah sebuah kerumitan

Yang mengubur setiap resahku untuk menemuimu

Lalu aku mendapatkan sebuah persoalan

Seperti rindu yang menemukan jalan buntu

Dan aku yang selalu menantikan kehadiranmu


Cukup pelih memahami isi kepalamu

Penuh petunjuk yang tak berarah

Kompas miliku pun tak bisa membacanya

Peta ditanganku berujung pada jurang keputus asaan

Katakanlah, bagaimana caraku untuk memahamimu?



Mencintaimu adalah sebuah kebisuan


Aku yang setiap hari dikabung rasa bersalah

Padahal aku cukup diam untuk luka

Aku bahkan tak banyak meminta

Hanya berbincang, bercanda, berdua

Tak terpenuhi pun tak apa

Kamu tak peduli tak apa

Aku akan diam saja



Mencintaimu pun adalah keharusan

Karena janji komitmenmu itu kan?


Bandung, 28 Juni 2016

Selasa, 24 Mei 2016

Batas Tubuh



 Batas Tubuh



Batas
Tubuhmu dibatasi dengan jarum dan pil

Rasa lelah menjadi hal yang familiar

Dan kantuk ditenggang waktu  yang wajar



Terbaring pada sebuah ranjang bertuliskan mimpi

Kau di permukaan, dan mereka menelusuk jauh dibalik punggungmu

Menghujami dengan ribuan jarum nasehat

Yang kemudian stetoskop itu memberimu tamparan

Parumu tidak akan kuat menghisap keringat

Otakmu tak akan bisa menerima kerja keras

Badanmu akan selalu berakhir tergulai lemah

Kertas resep itu benar adanya, mereka sebuah bukti objektif

Menginginkanmu tetap terpejam, beristirahat ujarnya



Sampah badanmu! Keinginanmu tidak sejalan dengan tubuhmu

Mulut-mulut mereka berbicara dan telingamu masih berfungsi

Tidakkah kau sadar? Semua ini beralasan menjagamu

Mereka terlalu sulit digapai saat tanganmu sulit dibengkokan

  “Lalu aku harus bagaimana? Api itu padam, patah sudah”


Menulis didalam ruangan hijau ditemani cairan dan selang
Purwokerto, 21 Mei 2016

Kamis, 05 Mei 2016

Maaf untuk Yuyun



Maaf untuk Yuyun

 
Maafkan kami yuyun

Engkau diperlakukan seperti hewan hingga tewas

Dan kami? Kami hanya bisa menatapmu lemas

Sekujur tubuhmu tegeletak tanpa busana

Lalu yang kami lakukan hanya menganga



Rutukilah diri kami yang tidak cepat peka

Sehingga kasusmu luput dari media massa

Akhirnya iba hanya bergumam saja ditelinga pendengar

Dan barisan pemerkosa itu, masih bisa tawa menawar




Apa dosamu? mengapa lagi-lagi kamu disalahkan?

Salahkah memakai seragam smp setelah usai sekolah?

Apa ini yang disebut dengan ketidak senonohan?

Benarkah ini kesalahan orang tua yang menyuruh sekolah?

Jadi menuntut ilmu itu salah?



Gila kamu! Birahimu ditaruh dimana?

Bisa-bisanya berselewangan seenaknya

Moralmu hilang kemana?

Pasti habis ditelan nafsu dan miras

Biadab!



Maafkan kami yuyun

Mereka hanya dihukum 15 tahun penjara

Padahal nyawamu hilang dari dunia



Maafkan kami

Kaummu sendiri masih saja sibuk dengan kosmetik

Dan yang lain, sibuk menyikapi korupsi yang tidak usai




Percayalah, masih banyak kaum hawa yang peduli padamu


Semoga jiwamu tenang disana yuyun

#NYALAUNTUKYUYUN


Purwokerto, 04 Mei 2016

Dari kami yang terlambat menyadari kemalanganmu

Jumat, 15 April 2016

Amnesia Diri



Amnesia Diri



Jiwaku dihabisi oleh waktu

Detik, menit, jam yang aku pandang hanya buku
 
Ragaku dirantai dengan tali menguntai
 
Pensil dan kertas adalah teman sepi
 
Bertahun-tahun kegiatan ini kujelang
 
Seluruh tubuh dan pikiran seperti di lelang
 
oleh titah
 
oleh sistem
 
oleh mereka yang berada di kursi panas


 


Sering sekali asik menghitung, tak lupa juga hipotesis dan laporan
 
Buku, teori, kuis, tugas, buku, teori, kuis, buku, teori, buku, buku, buku hahhh sialan
 
Ah, baru ingat aku juga membuat sistem pada mesin
 
Sampai lupa diri ini sudah di program, lalu apa bedanya aku dengan mesin?




Adakah yang bisa mengeluarkanku dari lingkaran setan yang semakin membelenggu
 
Apa lebih pantas jika bangkit sendiri?
 
Ketahuilah kaki ini sudah tak bisa menopang kembali
 
Bahkan kesempatan untuk mengatur kehendak pun, nihil


 
Aku mengerti, kami memang dicetak seperti ini
 
Semua ini akan terus berulang, bekerja seperti mau“nya”
 
dan amnesiapun menjadi  makanan sehari-hari




Aku bagai kehilangan jati diri, disantap oleh penjabat kampus bak orang-orang lapar


 
Note : Ditulis dalam keadaan sadar






Dari salah seorang mahasiswa yang akan menjadi robot penjabat kampus



Purwokerto, 15 Maret 2016

Jumat, 04 Maret 2016

Lagu Terkutuk

Lagu Terkutuk



“Selamat pagi” 2 pasang kalimat yang selalu hadir menyambut pagiku kala itu. Lebih dari cukup untuk membuat lengkungan di bibirku sepanjang hari. Dimanapun dan kapanpun, setiap aku melamun 2 kalimat itu akan muncul kembali, dan pada saat yang sama aku akan tersenyum lagi dan mulai membayangkan kamu ada tepat di depan mataku, menatap ku dalam dalam dengan sorot matamu yang teduh, lalu tanganmu mulai mengarah pada pucuk kepalaku bergerak turun sesuai dengan gelombang rambut, perlahan,dan terus berulang ulang bergerak dengan penuh kehati-hatian. Kemudian aku akan memejamkan mata lagi, hanya untuk sekedar menikmati kelembutan disetiap inci belaian tanganmu kemudian kamu akan tersenyum, dengan senyuman yang selalu menjadi candu untukku.


“Heh, ngapain sih senyum-senyum. Ada dosen tuh, jangan megangin hp mulu. Belajar!”ujarnya membuyarkan lamunanku


“hehe iya iya maafin deeeh”



                Bahkan aku akan selalu menunggu ucapan selamat malam darimu, yah sekedar untuk mengantar tidurku agar aku bermimpi indah. Tapi,memang kadang yang tadinya berniat tidur cepat, batal garagara aku dan kamu terlanjur nyaman berbincang dengan media elektronik. Aku selalu menunggu saat saat terpapar sebuah lantunan lagu dari suaramu, entah itu lagu kesukaanku atau bukan, dengan suara khasmu dan gitar yang dimainkan menambah sendu setiap malam yang datang, lagu itu mengukir sesuatu di dalam sini, semakin banyak maka semakin indah ukiran itu,semakin bermakna, dan semakin sulit untuk di lupakan. Setiap saat aku mendengar lagu itu, maka seperti mesin otomatis otakku akan mengarahkan pada layar proyektor pemutaran film dokumenter, tentang sebuah peristiwa aku dan kamu.


Kala itu hujan mengguyur kota kecil bernama Purwokerto,kota dengan susunan rumah yang ramah lingkungan, tidak macet,tidak ada angkot yang mengantri di pinggiran jalan untuk memenuhi jalanan, tidak ada supir kenek yang terus memaksa orang orang yang lewat, disana hanya ada rumah rumah sederhana,makanan makanan murah, pohon rindang , udara yang panas, dan terutama disana ada kamu. Kamu tepat berada disampingku memegang gitar warna merah maroon favoritmu menatapku seraya berkata


“li, nyanyi ya, aku main gitar. Kamu nyanyi”

“aku ga bisa nyanyi”ujarku menolak

“bisa bisa, kita mainin lagu yang kamu bisa”

“lagu apa?”



Kami hening berpikir berusaha mengotak ngatik sebuah lagu di otak kami, hening sekali beberapa menit. Wajar sih saat itu tidak ada orang selain kita berdua disana



....


I was born to tell you i love you
and I am torn to do what i have to
to make you mine stay with me tonight




....



                Petikan senar, nada yang berdentang, bait bait lirik lagu yang romantis, matamu yang terpejam, juga Suara serakmu yang memecah keheningan malam itu. Terlalu jelas, semua gambaran itu terlalu detail, retina mataku seakan memutar gambar dari kejadian satu tahun silam. Dan perasaan yang tergambar masih sama indahnya, hanya sekarang terasa menyakitkan, seperti tangan yang terjebak pada lingkaran sulur duri, merasa memliki keinginan keluar,  tapi semakin berusaha keluar semakin sakit, jika hanya berdiam diri, merasa tertekan. Mencari jalan keluar mati-matian, berpikir keras, bertanya sana sini, mengikuti seluruh saran yang diberikan.


Hasilnya?


Nihil


Masih saja sama, tangan itu tidak bisa keluar. Lain hal jika sulur itu dipotong, memang ia akan terbagi dua. Dari kedua bagian tadi, mereka akan tumbuh baru,semakin banyak, semakin panjang, semakin tidak terkendali, bahkan seluruh tubuhmu bisa terlilit, dan kuyakin itu lebih menyakitkan. Itulah yang aku rasakan ketika berusaha memaksa melupakan semua peristiwa lampau tentang kita.



           Lagu itu lagu terkutuk bagaimana tidak,jika setiap kali mendengarnya ada yang seperti ingin membuncah keluar dari sudut mata ataupun mulut yg ingin mencecar diri sendiri. Sebenernya bukan salah lagunya, penulis lagu itu, apalagi komposernya.
Ini salahku, yang selalu mengingat tentang hal sekecil apapun tentang kita..



Lagu terkutuk untuk sesuatu yang dikutuk. Lagunya itu ya mantra. Aku dan kamu itu kutukan, aku dikutuk oleh sulur yang mengikatku semakin erat, dan kamu? Kamu ya kutukan itu. Maka, bagaimana caraku bebas dari kutukan itu?


Aku berpikir mungkin lebih baik,aku tidak pernah mendapatkan lagu darimu.


Alasannya?



Ya karena, aku terlalu senang ketika mendapatkannya juga terlalu sedih ketika mendengarnya kembali