Malam
Dalam
Malam itu, malam
terpenting untukku. Kru setting yang sedang mengecek bahan yang kurang, Kru
make-up yang masih saja menyulap wajah wajah para actor, lighting yang sibuk
mengatur cahaya, sutarada dan asistennya yang sedang sibuk mendisukusikan tata
panggung, diluar sana para tim produksi sedang sibuk melayani oaring-orang yang
membeli tiket, memberi kembalian uang, berteriak memanggil orang, aku yakin
mereka kewalahan saat itu. Melayani sekian banyak orang dengan uang recehan
ditangan mereka, serta para actor yang sedang membenahi hati dan batin mereka, betapa
gugupnya aku saat itu, cemas,risau, khawatir, seperti saat para ayah menunggu
seorang maaikat kecil hadir di keluarganya, seperti seorang anak remaja yang
menunggu hasil kelulusannya, yaa mereka menunggu dan aku disana, aku
menunggumu..
Berharap tak melakukan
kesalahan saat pentas, berharap bisa memberi peran terbaik sebagai seorag
“Gum”, dan berharap tidak membuat penonton kecewa dengan aktingku terutama
kamu. Yang aku pikirkan saat itu adalah, Bagaimana caranya agar kamu memuji
aktingku. apakah aku terlihat cantik untukmu? dan apakah bila aku cantik juga
berbakat kamu bisa kembali padaku? Aku hanya berpikir bagaimana cara menunjukan
padamu bahwa aku telah berubah, dari yang tak bisa apa apa, menjadi seseorang
yang begitu gemilang di atas panggung. Akan aku tunjukan padamu bahwa aku
pantas berada disampingmu lagi. Akan kutunjukan hasil kerja kerasku selama satu
tahun tanpamu.
Dan semua itu terjawab,
pertanyaanku juga ambisiku. Hari itu pentasku berjalan dengan sempurna, serta
banyak tanggapan positif dari orang orang, penonton hadir memenuhi seluruh
ruang sampai ada yang tidak kebagian lalu pulang dengan kecewa, Banyak ucapan
selamat yang teman juga senior utarakan padaku, banyak yang memuji aktingku
lalu berkata aku cantik, hal ini membuatku semakin tersenyum senang dan percaya
diriku bertambah.Ya,kepercayaann diri untuk menemuimu kembali.
Saat diskusi dimulai,
sang sutradara memberi penjelasan tentang hasil kerja kerasnya dan timnya,
serinci mungkin dengan penuh kegugupan, dan keringat yang terus menetes dari
dahinya. Ia membiarkan semua orang menatapnya dan mengajukan beberapa
pertanyaan padanya. Saat itu aku duduk bersama kawan kawan teater luar. Aku
mengobrol membahas tentang pentas tadi, sambil sesekali mencari sosokmu
diantara keramaian. Yak itu dia! Kamu memang ada disana, berjongkok sambil
serius memperhatikan ucapan dari sutradara, seketika aku merasakan panas
dipungguku, aku benar-benar tak percaya itu kamu, awalnya memang aku sedikit
berharap kehadiranmu, tapi setelah ku konfirmasi perkataan temanku ternyata
memang kamu ada disana. Aku tidak bisa mendefinisikan seberapa besar rasa
senangku, yang jelas tingkah lakuku dan raut wajahku sangat menunjukan kalau
aku BAHAGIA.
Usai diskusi aku
ditantang temanku untuk menemuimu dan yah akhirnya mau tidak mau aku memang
harus menemuimu karena kamu itu tamu. Bimbang memang, tapi ya sudahlah aku
nekad saja, toh rasa percaya diriku sudah ada. Aku bersalaman denganmu,
berbincang denganmu, dan berharap ada sederet pujian yang keluar dari mulutmu
tapi ternyata tidak. Sedih memang, kurasa aku masih belum pantas, tapi ah
sudahlah dengan melihatmu saja aku merasa bahagia. Dan lalu kedua temanmu pamit
untuk pulang, ya ampun itu menyedihkan. Bahkan aku baru saja bertemu denganmu
lagi setelah sekian lama. Tapi ternyata dengan beberapa kata tersirat dari
temanmu, kamu mau tetap disini, menunggu dan mengobrol denganku. Kejutan yang
luarbiasa kamu tidak pulang mengikuti temanmu, dan memiih disana. Percayalah saat
aku menarikmu kesana kemari dan mengenalkanmu pada semua orang, sungguh itu hal
memalukan, hal bodoh yang kulakukan untuk mengusir rasa gugupku.
Sepanjang malam itu, aku
berada disampingmu ditengah keramaian ruang pentas,sorak gembira semua orang,
tawa membahana dimana-mana, juga bunyi cantik yang terpapar dari kamera,
semuanya tak ku pedulikan. Saat itu mataku,pandanganku, juga hatiku terfokus
pada sosok disebelahku. Ya kamu, siapa lagi?
Kamu hei , seseorang yang
dengan rambut gondong, jaket merah, dan celana jeans. Seseorang dengan senyuman
yang begitu tulus bagai bayi yang baru lahir, matamu yang sendu begitu teduh seakan
aku bisa melindungiku dari derasnya hujan malam itu, mata yang selalu membuat
aku hanya terfokus padamu. Mata tanpa kebohongan dan senyuman tanpa
kemunafikan. Aku merindukan itu semua,
"Bagaimana
rindu bisa lari dari rumahnya? Bagaimana rindu menjadi sebuah alasan seseorang
berkelana? Apakah rindu begitu menyakitkan untuk pulang? Karena rindu yakin ia
harus kembali pada tempatnya, seberapa jauh ia melangkah, seberapa besar rasa
ketidak peduliannya, rindu akan selalu pulang menuju rumahnya, dan rumah itu
adalah kamu"
Malam kian larut, dan
kamu masih disana bersamaku. Sesekali beberapa orang lewat dan mengejekku yang
tak mau pergi dari sampingmu. Iya jujur aku tak ingin pergi, seakan kakiku
ditanam di sebuah marmer aku benar benar
tidak ingin beranjak sesentipun, karena rasanya aku ingin menuntaskan rasa
rindu yang telahlama dikubur hidup hidup olehku. Sampai malam benar benar-benar
larut, waktunya untuk pergi. Kamu pun berpamitan, mau bagaimana lagi aku pasti
mempersilahkan. Ini menyedihkan, aku tahu seharusnya aku tidak boleh merasa
senang seperti ini, aku paling tahu bahwa tuhan akan mengutuk jika aku mulai berlebihan lagi, karena aku sadar
kelemahanku ada padamu.
Malam itu terasa singkat,
tapi cukup untuk membuka kembali kenangan yang dikubur. Udaranya memang terasa
sangat dingin, tapi lewat pandangan itu aku merasakan kehangatan. Berada
disampingmu adalah kesenangan yang aman. Hei ternyata aku lagi-lagi sampai pada
titik, aku jatuh hati padamu. Jelaskan padaku bagaimana kamu akan bertanggung
jawab tentang hal ini?
Subuh, pukul 04.00 a.m
tanggal 20 Desember 2015. Saat itu aku baru selesai bebenah ruang pentas dan
evaluasi. Kami sepakat menuju Burjo bersama-sama sebelum pulang, yah kami
memang belum ada yang makan dari kemarin. Rombongan itu mungkin ada sekitar 15
orang. Setelah memasan makanan, aku duduk di dekat tembok, tempat favoritku
untuk bersandar dan menunggu. Kami berbicara tentang pentas tadi, perasaan lega
saat melepas beban selama 3 bulan lebih yang membuat kami merasa pantas untuk
terus membicarakannya, membuat se isi burjo itu penuh dengan suara melengking
dan tawa kami. Beberapa makanan telah siap dihidangkan, kami mulai makan satu
persatu dan saat itulah kami baru diam, entah karena terlalu menikmati makanan
atau memang karena dari kami telalu kelaparan. Makananku belum datang, aku
membuka tasku mencari hp dan pbku, membiarkannya terisi beberapa persen, dan
mengaktifkannya.
Beberapa nontifications
chat saling berebut untuk membunyikan nada deringnya masing-masing, sampai
benar-benar diam baru aku membukanya. BBM, WA, dan LINE yah line, mataku
terbelalak menyaksikan apa yang ada di layar hp, untuk meyakinkannya aku mulai
menggosok mataku terus-menerus, barang kali rabunku mulai tak bisa dikontrol,
tapi ternyata memang retinaku baik baik saja, keyakinanku terjawab itu memang pesan
darimu. “Li, jangan lupa makan” Ya ampun mimpi apa aku semalam, ah salah aku
tidak tidur, hehe lupa. 4 kalimat itu, yah hanya 4 dan itu cukup membuatku
tersedak makanan,
Semenjak malam itu, aku merasa mengenalmu
seperti dulu, duluuu sekali sewaktu aku pertama bertemu denganmu disebuah
café,dan dimulai dari situ juga aku terus menahan fokusku pada kedua matamu.
Sifatmu yang seperti inilah yang selalu membuatku kagum, caramu memperlakukanku
sangat istimewa, tutur bicaramu yang lembut, intonasi suaramu yang hangat, kamu
memandang istimewa pada seorang wanita ada suatu perlakuan khusus pada wanita
yang kamu incar sebagai pasanganmu, kegigihanmu adalah hal terbaik yg kamu
miliki, dan aku bisa menyimpulkan dari semuanya, kamu adalah pria romantis.
Kita sempat berbincang
berdua lagi, makan bersama, atau sekedar hanya bertemu untuk membahas satu dua
dialog yang tak terlalu penting. Bahkan kamu selalu memulai chat duluan saat
tidak ada pembahasan, ah sungguh hari hari yang ku jalani terasa sangat indah.
Tapi itu hanya 4 hari, sama seperti 4 kalimat itu, kamu tiba tiba kembali saat
pertama kali kita mengakhiri hubungan dulu. Dingin. Misterius. Dan menyebalkan.
“Bodoh!! Bodoh, bodoh!! Bisa bisanya aku tertipu lagi! Sialan! Dasar manusia
tidak berperasaan!! Aku membencimu!!”
“Harapan, mengapa satu kata itu bisa
merobohkan kekuasaan para perompak kasih? Jika keberadaannya memang semu,
janganlah terus berpikir untuk kembali. Aku tak peduli jika kau terus
bersikeras, yang jelas bukan hatimu saja yang akan merintih, tapi bulir bening
dari kelopak matamu bisa turun kapan saja ia mau. Lalu siapa yang akan
mendengar rintihanmu jika bukan kau sendiri? Siapa yang akan menghapus bulir
bening itu jika bukan dirimu? Dia? Oh dear, kasihan hatimu yang berulang kali terombang
ambing samudera harapan, angin saja enggan membawamu kesebuah pulau baru jika
saja dirimu masih bimbang. Jadilah
perompak yang cerdik, pilih arah angin dengan tegas, disana ada pulau yang
menunggumu, terus menunggumu untuk sekedar singgah atau menetap, ia selalu
berharap kedatanganmu entah itu cepat atau lambat, yang ia tahu menunggumu adalah
sebuah kewajiban, ia akan menjadi tempat terbaik untuk kau tinggali”
Setidaknya
itu yang aku katakan untuk menghibur diri sendiri. Berkata memang mudah tapi
realitas selalu bertolak belakang. Baiklah mungkin aku yang terlalu berlebihan
mengharapkan kamu kembali. Sial kenapa pikiran positif selalu bisa menghapus
keburukan mu. Dan mengapa gampang sekali menangis hanya dengan mengingat
wajahmu?
“li sebelum pulang makan dulu ya, kamu belum
makan kan?” ujarnya sambil memakaikan helm di kepalaku
“lah bukannya kamu baru
makan sebelum kita berangkat tadi?”
“laper lagi hehe.. mau makan apa kamu?”
tanyamu, padahal itu jam 9 malam
“aku bingung, yang enak
apa ya kira kira?”
“kalau bingung pegangan
hehe…”
“gimana kamu aja deh”
“aku ngikut aja, kamu mau
makan apa? Jangan bilang terserah ya, aku suka ga bisa nebak maunya kamu hehe”
Hal sekecil
itu bisa aku ingat dengan jelas. Percakapan sesederhana itu, tapi berkesan di dalam sini. Kamu memang bukan
orang yang selalu membuatku tertawa terbahak, kamu memang bukan pria yang
selalu mencari topik pembicaraan saat kita diam membisu tak tau harus bicara
apa. Dan bukan seseorang yang banyak bicara, saat kamu bicarapun jarang sekali
mau menatap mataku. Tapi aku bisa se jatuh ini padamu, bahkan dalam diam pun
aku bisa merasa damai.
Pagi itu, berjalan
seperti biasa. Cahaya masuk dari celah jendela yang tertutup kain. Aku bangun
dari tidurku, melihat layar hp,percuma aku tau tidak akan ada notif darimu, aku
pun sudah tidak ingin memulai nya lagi. Satu jam dua jam lewat, 3 jam
berikutnya aku melihat layar hp lagi, masih saja tidak ada. Betapa sulitnya
untuk tidak berharap. Aku memutuskan untuk mematikan hp sepanjang hari. Mencoba
lagi membiasakan diri, belajar, tertawa, makan, berbicara, melakukan semuanya
dengan biasa,seperti memang tak terjadi apapun kenyataannya memang tidak ada,
yang ada hanya hatiku yang terus terasa nyeri,
tapi sepertinya aku gagal. Aku dimarahi ditegur untuk kesekian kalinya
oleh beberapa temanku, aku hanya bisa diam dan menunduk dalam dalam. Perkataan
mereka benar, hanya keledai yang bisa jatuh pada lubang yang sama dua kali.
“apa kubilang, jangan terbawa
suasana! Sakit kan? Ya sudahlah terima, dia udah ga peduli lagi sama kamu,
sadar kek!”
Aku hanya bisa menangis
sejadinya, mengingat kembali perkataan temanku dikampus tadi. Sepanjang hari
itu aku terus menangis, aku ingin marah dan mengumpatnya tapi aku tidak bisa,
aku ingin menghilangkan kebodohan ini, aku ingin semua perasaan itu terlepas,
aku tidak ingin terus mengkhawatirkannya lagi, aku tidak ingin sepanjang hari
terus memikirkannya,aku tidak ingin menjadi keledai, cukup aku tidak ingin ada
dia. Tapi lagi lagi aku tidak bisa, sial lagi lagi aku menemukan ketulusan dari
setiap perkataan dan wajahnya.
"Lalu aku memutuskan untuk menemuimu kembali,
dengan perasaan yang lebih tegar lagi, lebih kuat lagi. Duduk di depanmu,
menata hati, menata pikiran, menata kata yang akan aku sampaikan padamu. Mari
berbicara masalah hati, mari berdiskusi tentang perasaan yang sudah hampir
usang dan mari selesaikan ini. Sudah cukup aku mencintaimu dalam diam, kurasa
aku sudah banyak belajar mencintai ketulusan darimu. Aku cukup mengerti
bagaimana hari akan terus berganti, waktu akan terus berjalan, lambat laun aku
atau kamu akan melupakan semua ini. Kamu yang terlebih dahulu melupakannya,
kini giliranku kan? Kasih, seandainya malam itu kamu tidak ada, mungkin aku
masih saja bimbang untuk maju atau mundur. Aku bisa saja masih terpenjara
hingga hati ini semakin habis masanya, lalu menolak takdirku, bukan menerimanya
untuk menyatu bersamaku seperti sekarang"
Sayang, terimakasih untuk semuanya.
Dulu aku sempat
mecintaimu apa adanya, tapi sekarang mungkin mereka telah terkikis. Sampaikan
salam persahabatanku
Bandung, 28
Januari 2016