Daftar Blog

Senin, 01 Februari 2016

Malam Dalam


Malam Dalam

Malam itu, malam terpenting untukku. Kru setting yang sedang mengecek bahan yang kurang, Kru make-up yang masih saja menyulap wajah wajah para actor, lighting yang sibuk mengatur cahaya, sutarada dan asistennya yang sedang sibuk mendisukusikan tata panggung, diluar sana para tim produksi sedang sibuk melayani oaring-orang yang membeli tiket, memberi kembalian uang, berteriak memanggil orang, aku yakin mereka kewalahan saat itu. Melayani sekian banyak orang dengan uang recehan ditangan mereka, serta para actor yang sedang membenahi hati dan batin mereka, betapa gugupnya aku saat itu, cemas,risau, khawatir, seperti saat para ayah menunggu seorang maaikat kecil hadir di keluarganya, seperti seorang anak remaja yang menunggu hasil kelulusannya, yaa mereka menunggu dan aku disana, aku menunggumu..

Berharap tak melakukan kesalahan saat pentas, berharap bisa memberi peran terbaik sebagai seorag “Gum”, dan berharap tidak membuat penonton kecewa dengan aktingku terutama kamu. Yang aku pikirkan saat itu adalah, Bagaimana caranya agar kamu memuji aktingku. apakah aku terlihat cantik untukmu? dan apakah bila aku cantik juga berbakat kamu bisa kembali padaku? Aku hanya berpikir bagaimana cara menunjukan padamu bahwa aku telah berubah, dari yang tak bisa apa apa, menjadi seseorang yang begitu gemilang di atas panggung. Akan aku tunjukan padamu bahwa aku pantas berada disampingmu lagi. Akan kutunjukan hasil kerja kerasku selama satu tahun tanpamu.

Dan semua itu terjawab, pertanyaanku juga ambisiku. Hari itu pentasku berjalan dengan sempurna, serta banyak tanggapan positif dari orang orang, penonton hadir memenuhi seluruh ruang sampai ada yang tidak kebagian lalu pulang dengan kecewa, Banyak ucapan selamat yang teman juga senior utarakan padaku, banyak yang memuji aktingku lalu berkata aku cantik, hal ini membuatku semakin tersenyum senang dan percaya diriku bertambah.Ya,kepercayaann diri untuk menemuimu kembali.

Saat diskusi dimulai, sang sutradara memberi penjelasan tentang hasil kerja kerasnya dan timnya, serinci mungkin dengan penuh kegugupan, dan keringat yang terus menetes dari dahinya. Ia membiarkan semua orang menatapnya dan mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Saat itu aku duduk bersama kawan kawan teater luar. Aku mengobrol membahas tentang pentas tadi, sambil sesekali mencari sosokmu diantara keramaian. Yak itu dia! Kamu memang ada disana, berjongkok sambil serius memperhatikan ucapan dari sutradara, seketika aku merasakan panas dipungguku, aku benar-benar tak percaya itu kamu, awalnya memang aku sedikit berharap kehadiranmu, tapi setelah ku konfirmasi perkataan temanku ternyata memang kamu ada disana. Aku tidak bisa mendefinisikan seberapa besar rasa senangku, yang jelas tingkah lakuku dan raut wajahku sangat menunjukan kalau aku BAHAGIA.

Usai diskusi aku ditantang temanku untuk menemuimu dan yah akhirnya mau tidak mau aku memang harus menemuimu karena kamu itu tamu. Bimbang memang, tapi ya sudahlah aku nekad saja, toh rasa percaya diriku sudah ada. Aku bersalaman denganmu, berbincang denganmu, dan berharap ada sederet pujian yang keluar dari mulutmu tapi ternyata tidak. Sedih memang, kurasa aku masih belum pantas, tapi ah sudahlah dengan melihatmu saja aku merasa bahagia. Dan lalu kedua temanmu pamit untuk pulang, ya ampun itu menyedihkan. Bahkan aku baru saja bertemu denganmu lagi setelah sekian lama. Tapi ternyata dengan beberapa kata tersirat dari temanmu, kamu mau tetap disini, menunggu dan mengobrol denganku. Kejutan yang luarbiasa kamu tidak pulang mengikuti temanmu, dan memiih disana. Percayalah saat aku menarikmu kesana kemari dan mengenalkanmu pada semua orang, sungguh itu hal memalukan, hal bodoh yang kulakukan untuk mengusir rasa gugupku.

Sepanjang malam itu, aku berada disampingmu ditengah keramaian ruang pentas,sorak gembira semua orang, tawa membahana dimana-mana, juga bunyi cantik yang terpapar dari kamera, semuanya tak ku pedulikan. Saat itu mataku,pandanganku, juga hatiku terfokus pada sosok disebelahku. Ya kamu, siapa lagi?

Kamu hei , seseorang yang dengan rambut gondong, jaket merah, dan celana jeans. Seseorang dengan senyuman yang begitu tulus bagai bayi yang baru lahir, matamu yang sendu begitu teduh seakan aku bisa melindungiku dari derasnya hujan malam itu, mata yang selalu membuat aku hanya terfokus padamu. Mata tanpa kebohongan dan senyuman tanpa kemunafikan. Aku merindukan itu semua,

"Bagaimana rindu bisa lari dari rumahnya? Bagaimana rindu menjadi sebuah alasan seseorang berkelana? Apakah rindu begitu menyakitkan untuk pulang? Karena rindu yakin ia harus kembali pada tempatnya, seberapa jauh ia melangkah, seberapa besar rasa ketidak peduliannya, rindu akan selalu pulang menuju rumahnya, dan rumah itu adalah kamu"

Malam kian larut, dan kamu masih disana bersamaku. Sesekali beberapa orang lewat dan mengejekku yang tak mau pergi dari sampingmu. Iya jujur aku tak ingin pergi, seakan kakiku ditanam di  sebuah marmer aku benar benar tidak ingin beranjak sesentipun, karena rasanya aku ingin menuntaskan rasa rindu yang telahlama dikubur hidup hidup olehku. Sampai malam benar benar-benar larut, waktunya untuk pergi. Kamu pun berpamitan, mau bagaimana lagi aku pasti mempersilahkan. Ini menyedihkan, aku tahu seharusnya aku tidak boleh merasa senang seperti ini, aku paling tahu bahwa tuhan akan mengutuk jika  aku mulai berlebihan lagi, karena aku sadar kelemahanku ada padamu.

Malam itu terasa singkat, tapi cukup untuk membuka kembali kenangan yang dikubur. Udaranya memang terasa sangat dingin, tapi lewat pandangan itu aku merasakan kehangatan. Berada disampingmu adalah kesenangan yang aman. Hei ternyata aku lagi-lagi sampai pada titik, aku jatuh hati padamu. Jelaskan padaku bagaimana kamu akan bertanggung jawab tentang hal ini?

Subuh, pukul 04.00 a.m tanggal 20 Desember 2015. Saat itu aku baru selesai bebenah ruang pentas dan evaluasi. Kami sepakat menuju Burjo bersama-sama sebelum pulang, yah kami memang belum ada yang makan dari kemarin. Rombongan itu mungkin ada sekitar 15 orang. Setelah memasan makanan, aku duduk di dekat tembok, tempat favoritku untuk bersandar dan menunggu. Kami berbicara tentang pentas tadi, perasaan lega saat melepas beban selama 3 bulan lebih yang membuat kami merasa pantas untuk terus membicarakannya, membuat se isi burjo itu penuh dengan suara melengking dan tawa kami. Beberapa makanan telah siap dihidangkan, kami mulai makan satu persatu dan saat itulah kami baru diam, entah karena terlalu menikmati makanan atau memang karena dari kami telalu kelaparan. Makananku belum datang, aku membuka tasku mencari hp dan pbku, membiarkannya terisi beberapa persen, dan mengaktifkannya.

Beberapa nontifications chat saling berebut untuk membunyikan nada deringnya masing-masing, sampai benar-benar diam baru aku membukanya. BBM, WA, dan LINE yah line, mataku terbelalak menyaksikan apa yang ada di layar hp, untuk meyakinkannya aku mulai menggosok mataku terus-menerus, barang kali rabunku mulai tak bisa dikontrol, tapi ternyata memang retinaku baik baik saja, keyakinanku terjawab itu memang pesan darimu. “Li, jangan lupa makan” Ya ampun mimpi apa aku semalam, ah salah aku tidak tidur, hehe lupa. 4 kalimat itu, yah hanya 4 dan itu cukup membuatku tersedak makanan,
           
Semenjak malam itu, aku merasa mengenalmu seperti dulu, duluuu sekali sewaktu aku pertama bertemu denganmu disebuah café,dan dimulai dari situ juga aku terus menahan fokusku pada kedua matamu. Sifatmu yang seperti inilah yang selalu membuatku kagum, caramu memperlakukanku sangat istimewa, tutur bicaramu yang lembut, intonasi suaramu yang hangat, kamu memandang istimewa pada seorang wanita ada suatu perlakuan khusus pada wanita yang kamu incar sebagai pasanganmu, kegigihanmu adalah hal terbaik yg kamu miliki, dan aku bisa menyimpulkan dari semuanya, kamu adalah pria romantis.

Kita sempat berbincang berdua lagi, makan bersama, atau sekedar hanya bertemu untuk membahas satu dua dialog yang tak terlalu penting. Bahkan kamu selalu memulai chat duluan saat tidak ada pembahasan, ah sungguh hari hari yang ku jalani terasa sangat indah. Tapi itu hanya 4 hari, sama seperti 4 kalimat itu, kamu tiba tiba kembali saat pertama kali kita mengakhiri hubungan dulu. Dingin. Misterius. Dan menyebalkan. “Bodoh!! Bodoh, bodoh!! Bisa bisanya aku tertipu lagi! Sialan! Dasar manusia tidak berperasaan!! Aku membencimu!!”

            “Harapan, mengapa satu kata itu bisa merobohkan kekuasaan para perompak kasih? Jika keberadaannya memang semu, janganlah terus berpikir untuk kembali. Aku tak peduli jika kau terus bersikeras, yang jelas bukan hatimu saja yang akan merintih, tapi bulir bening dari kelopak matamu bisa turun kapan saja ia mau. Lalu siapa yang akan mendengar rintihanmu jika bukan kau sendiri? Siapa yang akan menghapus bulir bening itu jika bukan dirimu? Dia? Oh dear, kasihan hatimu yang berulang kali terombang ambing samudera harapan, angin saja enggan membawamu kesebuah pulau baru jika saja dirimu masih bimbang.  Jadilah perompak yang cerdik, pilih arah angin dengan tegas, disana ada pulau yang menunggumu, terus menunggumu untuk sekedar singgah atau menetap, ia selalu berharap kedatanganmu entah itu cepat atau lambat, yang ia tahu menunggumu adalah sebuah kewajiban, ia akan menjadi tempat terbaik untuk kau tinggali”

            Setidaknya itu yang aku katakan untuk menghibur diri sendiri. Berkata memang mudah tapi realitas selalu bertolak belakang. Baiklah mungkin aku yang terlalu berlebihan mengharapkan kamu kembali. Sial kenapa pikiran positif selalu bisa menghapus keburukan mu. Dan mengapa gampang sekali menangis hanya dengan mengingat wajahmu?

 “li sebelum pulang makan dulu ya, kamu belum makan kan?” ujarnya sambil memakaikan helm di kepalaku

“lah bukannya kamu baru makan sebelum kita berangkat tadi?”

 “laper lagi hehe.. mau makan apa kamu?” tanyamu, padahal itu jam 9 malam

“aku bingung, yang enak apa ya kira kira?”

“kalau bingung pegangan hehe…”

“gimana kamu aja deh”

“aku ngikut aja, kamu mau makan apa? Jangan bilang terserah ya, aku suka ga bisa nebak maunya kamu hehe”

Hal sekecil itu bisa aku ingat dengan jelas. Percakapan sesederhana itu, tapi berkesan di dalam sini. Kamu memang bukan orang yang selalu membuatku tertawa terbahak, kamu memang bukan pria yang selalu mencari topik pembicaraan saat kita diam membisu tak tau harus bicara apa. Dan bukan seseorang yang banyak bicara, saat kamu bicarapun jarang sekali mau menatap mataku. Tapi aku bisa se jatuh ini padamu, bahkan dalam diam pun aku bisa merasa damai.

Pagi itu, berjalan seperti biasa. Cahaya masuk dari celah jendela yang tertutup kain. Aku bangun dari tidurku, melihat layar hp,percuma aku tau tidak akan ada notif darimu, aku pun sudah tidak ingin memulai nya lagi. Satu jam dua jam lewat, 3 jam berikutnya aku melihat layar hp lagi, masih saja tidak ada. Betapa sulitnya untuk tidak berharap. Aku memutuskan untuk mematikan hp sepanjang hari. Mencoba lagi membiasakan diri, belajar, tertawa, makan, berbicara, melakukan semuanya dengan biasa,seperti memang tak terjadi apapun kenyataannya memang tidak ada, yang ada hanya hatiku yang terus terasa nyeri,  tapi sepertinya aku gagal. Aku dimarahi ditegur untuk kesekian kalinya oleh beberapa temanku, aku hanya bisa diam dan menunduk dalam dalam. Perkataan mereka benar, hanya keledai yang bisa jatuh pada lubang yang sama dua kali.

“apa kubilang, jangan terbawa suasana! Sakit kan? Ya sudahlah terima, dia udah ga peduli lagi sama kamu, sadar kek!”

Aku hanya bisa menangis sejadinya, mengingat kembali perkataan temanku dikampus tadi. Sepanjang hari itu aku terus menangis, aku ingin marah dan mengumpatnya tapi aku tidak bisa, aku ingin menghilangkan kebodohan ini, aku ingin semua perasaan itu terlepas, aku tidak ingin terus mengkhawatirkannya lagi, aku tidak ingin sepanjang hari terus memikirkannya,aku tidak ingin menjadi keledai, cukup aku tidak ingin ada dia. Tapi lagi lagi aku tidak bisa, sial lagi lagi aku menemukan ketulusan dari setiap perkataan dan wajahnya.

            "Lalu aku memutuskan untuk menemuimu kembali, dengan perasaan yang lebih tegar lagi, lebih kuat lagi. Duduk di depanmu, menata hati, menata pikiran, menata kata yang akan aku sampaikan padamu. Mari berbicara masalah hati, mari berdiskusi tentang perasaan yang sudah hampir usang dan mari selesaikan ini. Sudah cukup aku mencintaimu dalam diam, kurasa aku sudah banyak belajar mencintai ketulusan darimu. Aku cukup mengerti bagaimana hari akan terus berganti, waktu akan terus berjalan, lambat laun aku atau kamu akan melupakan semua ini. Kamu yang terlebih dahulu melupakannya, kini giliranku kan? Kasih, seandainya malam itu kamu tidak ada, mungkin aku masih saja bimbang untuk maju atau mundur. Aku bisa saja masih terpenjara hingga hati ini semakin habis masanya, lalu menolak takdirku, bukan menerimanya untuk menyatu bersamaku seperti sekarang"


Sayang, terimakasih untuk semuanya. 
Dulu aku sempat mecintaimu apa adanya, tapi sekarang mungkin mereka telah terkikis. Sampaikan salam persahabatanku

Bandung, 28 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan untuk memberi kritik dan saran =))