Ruang Nilai
Ibu, aku akan
bercerita sesuatu padamu, tapi cukup hanya ibu dan orang ini yang tau,
bagaimana?
Aku tidak akan mulai bercerita jika, kalian berdua tidak berjanji padaku.
Aku tidak akan mulai bercerita jika, kalian berdua tidak berjanji padaku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Baiklah, baiklah,
karena kalian sudah berjanji, lalu aku akan mulai bercerita tentang
ketakutanku. Dan perlu kalian ingat. Selain menjaga kerahasiaan ini, ada hal
yang paling penting yang harus kalian lakukan yaitu...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tak terasa ya
sudah satu setengah bulan aku meninggalkanmu bu. Kala itu, saat aku memutuskan
untuk merantau, mencari pendidikan di kota orang ibu memeluku, menciumi pipiku,
memeluku lagi, menciumku lagi, memeluk,mencium, terus begitu saja
berulang-ulang.
Tanganmu membelai
pucuk kepalaku, kakimu gemetar, matamu berlinang, an Mulutmu berbicara pelan,
penuh kehati-hatian dan terbata
“Nak, hati-hati
disana. Jaga baik-baik dirimu”
Lalu aku hanya
mengangguk menurut sambil terus berusaha mengangkat koperku yang besar menuju
bagasi mobil.
Saat itu aku
belum mengerti perkataanmu,aku belum benar-benar paham maksud dari ke
hati-hatian yang kau bicarakan. Yang aku tau itu hanya respon manusia terhadap
suatu perasaan kehilangan, karena kebiasaan tidak akan melihat seseorang untuk
jangka waktu yang cukup panjang, karena hatimu yang terlalu cengeng melepasku,
atau mungkin karena ketidak percayaanmu jika aku bisa mengurus diriku sendiri.
Entahlah, saat itu aku hanya berpikir untuk pergi mencari ilmu di kota orang.
Kenyataan yang
aku hadapi, aku ketakutan disini bu. Aku begitu takut menghadapi mereka, bahkan
aku takut akan diriku sendiri. Ibu aku malu untuk menangis, tapi sepertinya ini
sangat membuatku begitu tertekan. Aku ingin berteriak dan keluar dari sini lalu
menghampirimu dan berkata aku tidak ingin kembali, tapi aku terlalu takut
mengecewakan harapanmu.
Sssttttt... Aku rasa mereka mendengarku
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bu, aku bilang
disini aku akan menuntut ilmu sebanyak banyaknya, tapi yang kudapat bukan itu.
Aku diberi buku beribu-ribu halaman, tapi bahkan untuk membacanya saja aku
merasa berat. Aku diberi perintah dari yang mereka sebut petinggi, tapi untuk
melawan saja aku tidak sanggup.
Tanganku di paku
diatas meja, jari-jariku diikat dengan pulpen, pantatku di lem diatas kursi
kayu reot, mataku dipaksa terbuka melihat angka-angka di papan tulis, aku
ditanami pemahaman mereka, dan parahnya mulutku dibungkam oleh nilai.
Aku takut ibu...
menulis ini saja aku merinding..
Aku takut aku tak mempunyai ilmu karena yang ku kejar hanya nilai. Aku takut
aku tak punya prinsip karena aku terombang-ambing dengan pemahaman mereka, aku
takut untuk melawan karena mereka mengancam, dan yang paling kutakutkan
adalah jika aku terus menerus mengikuti
perintah mereka, pemahaman mereka, dan buku-buku mereka maka aku akan menjadi
mesin pekerja, yang tak berpikir dan hanya menuruti program. Bahkan ketika
mereka berbuat salah aku hanya bisa diam, ketika mereka berusaha menguburku
dengan program-program itu aku hanya bisa menurut tanpa melawan.
Tolong aku ibu,
tolooong..
Mereka menangkapku bu, membawaku pada kamar gelap yang mereka sebut ruang
kelas.
Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika mereka terus berbuat semau mereka,
mengambil keuntungan dari kami sedikit demi sedikit, dan karena kami tak pernah
melawan aku melihat hal itu terus bertambah besar. Semakin aku tersiksa semakin
kencang tertawa mereka, sampai sampai perut-perut itu ikut bergoyang bersama
tawanya. Maafkan aku, aku gagal mengajak, dan aku tidak bisa berjuang sendirian
Maaf aku membuang
jerih payahmu dengan siasia, tapi tenang bu.
Dari pada aku
harus mengikuti program itu, dan daripada aku harus diam tanpa melawan
penindasan itu ,lebih baik aku akhiri saja hidupku di ruang kelas ini.
Jadi ibu tidak perlu mengeluarkan keringatmu untuk membayar kesenangan mereka kan?
Selamat tinggal
bu...
hhhhhmmm knpa gua harus baca tlisan ini, jdi kangen ibu:'( hehehe
BalasHapushehe..
BalasHapuscoba telfon ibunya :)