Surat untuk Kekasih Terakhir
Selamat sore
ayah, bagaimana kabarmu? Masih sehatkah? Atau sakit?
Tidak, tidak usah kau repot repot untuk menjawab pertanyaan sederhanaku. Cukup
diam disitu saja, lakukanlah aktifitasmu seperti biasa. Kali ini aku tidak akan
mengoceh panjang lebar, berbicara kasar padamu, atau mengumpatmu diam diam.
Percayalah, tidak usah khawatir aku akan menyanggah semua argumenmu, bahkan
bila aku menyanggah tidak akan didengarkan, jadi untuk apa? Aku disini hanya
akan menulis, peduli atau tidak aku akan tetap menulis. Tentang keluarga kita.
Ayah, mungkin ibu
amat pendiam, ia lebih memilih disibukan dengan seluruh kegiatannya sebagai ibu
dan pekerja. Sibuk sekali sampai bahkan ia lupa tentang kesehatannya, bisa
hampir satu minggu tiga kali penyakit yang dia derita berulang kali
menggerogoti tubuhnya, membuatnya harus terkapar di atas kasur, tapi ia tetap
memaksa bekerja, mencuci pakaian, memasak, menerima tamu, mengurus pekerja, dan
masih banyak lagi yang ia lakukan walaupun menahan sakit. Padahal usianya
sekarang, masih terlalu muda untuk penyakit yang terbilang sudah akut. Lihatlah
dengan segala aktifitas mengurus rumah, anak, dan para pekerja ia masih
dibentak olehmu, masih saja kau sering hina hina tidak becus, bahkan masih saja
kau pukuli dengan tangan kasarmu. Ia marah padamu, tapi apa lah daya, ia hanya
seorang istri yang hanya bisa melawan dengan ketidak bicaraannya. Ia diam
karena marah padamu, ia tak ingin menyanggah bicaramu karena akan lebih kau
rutuki dengan hujatan kasarmu, dan saat hujatan omongamu menusuk hatinya bertubi
tubi, ia akan menangis, lalu diam seribu bahasa, dan semakin menyibukan diri
dengan segala aktifitasnya karena ia takut olehmu. Ia terlalu takut untuk
melawanmu, tapi ia terlalu tertekan dengan tabiatmu, dan ia terlalu tidak tega
meninggalakanmu juga anak anakmu. Lihatlah betapa kebingungannya dia dengan
segala tekanan rumah dan pekerjaan, betapa pusingnya ia memikirkan kamu yang
selalu kasar padanya. Kamu yang tak pernah mau mendengar keluhannya, kamu yang
tak pernah merasakan menjadi dirinya. Mungkin kamu terlalu sibuk dengan dirimu
sendiri,sampai akhirnya kami yang menjadi korban kelakuanmu.
Ayah, aku yakin
hati ibu masih mencintaimu dengan tulus. Ayah bisa lihat sendiri, dengan segala
perlakuanmu terhadapnya ia tidak menggugat cerai. Memang aku akui ia sering
marah dan mengeluh, lalu perlakuannya padamu yang terkesan cuek, justru itulah
ia cuek karena ia diam, ia diam karena ia takut, ia takut karena ia tidak ingin
hatinya terus teriris. Saat ia diam, ia sedang menyusun potongan hatinya yang hancur
agar utuh kembali, walaupun kotor. Aku yakin ia sering menangis walaupun tidak
kasat mata, bagaimana tidak? Bacalah suratnya
Kasih...
di tanggal 14 februari ini yang anak kita bicarakan sebagai hari kasih sayang, bolehkah sekali lagi aku berkata aku mencintaimu?
Kita memang sudah terlalu tua untuk saling memberi coklat,bertukar kado atau pergi berkencan. Dulu saja jarang, bagaimana sekarang?
Selama 20 tahun aku mengisi hariku bersamamu, berbincang, bertengkar, sejauh ini kisah kita kaku.
di tanggal 14 februari ini yang anak kita bicarakan sebagai hari kasih sayang, bolehkah sekali lagi aku berkata aku mencintaimu?
Kita memang sudah terlalu tua untuk saling memberi coklat,bertukar kado atau pergi berkencan. Dulu saja jarang, bagaimana sekarang?
Selama 20 tahun aku mengisi hariku bersamamu, berbincang, bertengkar, sejauh ini kisah kita kaku.
Walaupun kaku bukan berarti tidak saling mencintaikan?
Sampai detik ini hatiku masih mencintaimu, memang
telah kotor dan berulang kali terkikis tapi, aku bisa membuktikan bahwa aku
tidak meninggalkanmu sampai sekarang.
Seseorang mungkin berkata aku wanita hebat karena bertahan dengan segala kondisi ini. Tapi justru kamulah yang hebat bisa membuatku tidak bisa meninggalkanmu.
Seseorang mungkin berkata aku wanita hebat karena bertahan dengan segala kondisi ini. Tapi justru kamulah yang hebat bisa membuatku tidak bisa meninggalkanmu.
Maafkan aku yang terlalu bisu. Aku marah, aku
kesal, aku tidak terima ketika ditindas, lalu aku akan menangis, menangis
sejadinya didalam hati. Aku tidak akan menampakannya, malu. Aku sudah tua.
Aku menangis karena aku takut aku tidak mencintaimu lagi.
Aku menangis karena aku takut aku tidak mencintaimu lagi.
Aku takut aku tidak bisa menjadikan hatiku utuh kembali.
Aku hanya berpegang pada komitmenmu dulu, saat kita telah di sahkan.
Aku hanya berpegang pada komitmenmu dulu, saat kita telah di sahkan.
Terkadang aku merenung, karena memikirkanmu yang seperti batu, bagaimana caraku untuk meluluhkanmu, aku gagal, dan aku menyerah merubahmu, maafkan aku. Aku bukan istri yang baik.
Peganglah perkataanku ini..
“Aku akan menyulam kembali hatiku dengan kesabaran, agar bisa selalu berada disampingmu sampai ajal datang. yang kutahu adalah ini kewajibanku sebagai seorang istri”
Bandung, 14 Januari
Kekasih terakhirmu
Sudah kubilang
ayah, ibu sangat mencintaimu kan?dan ini ia tulis berulang kali, saat ia merasa
hatinya tersayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan untuk memberi kritik dan saran =))